Jumat, 28 Oktober 2011


Kebudayaan

Arab Saudi terkenal dengan kebudayaannya yang berakar dari kebudayaan padang pasir.
Raja Abdullah Bin Abdul Aziz, sejak menjadi Putra Mahkota Arab Saudi dan menjabat sebagai Ketua National Guard (Al-Harats al-Watahny) 25 tahun lalu sudah menggarap dan memperkanalkan kebudayaan Arab Saudi kepada publik internasional, lewat Pesta Kebudayaan ‘Janadiriyah’, diambil dari nama sebuah lokasi di kawasan Arab Saudi Tengah. Tahun 2010 ini perayaan tersebut memasuki tahun ke-25. Pesta Kebudayaan tahun ini bertema ‘SATU DUNIA, BERAGAM BUDAYA’ dimana Perancis terpilih sebagai tamu kehormatan pada peristiwa kebudayaan akbar tersebut. Pihak penyelenggara juga mengundang para intelektual, cendekiawan serta politikus internasional dari berbagai kalangan, agama, tokoh oposisi dan aliran pemikiran yang bermacam-macam. Pokoknya gado-gado dan lengkap dari berbagai mazhab.
Dari Mesir, misalnya hadir, para mantan pejabat negara, yang merupakan suara resmi pemerintah. Ada tokoh, misalnya Pemikir Ali Salim, yang aktif dan penggiat menyuarakan normalisasi hubungan dengan Israel; ada Gamal Sulthan dari Jamaah Ikhawan Muslimin; Prof. Dr. Ahmad Omar Hashim, mantan Rektor Universitas Al-Azhar. Ada Grand Mufti Yerussalem, Sheikh Mohamed Husein. Dari Lebanon hadir tokoh Sunni maupun Syiah, antara lain Hani Fahs, Mohamad Hasan Al-Amin dan Syed Atha Allah Muhajirany, mantan Menteri Penerangan Iran. Juga ada mantan PM Rusia; mantan Sekjen PBB, Dr, Boutros Boutros Gali; Mantan Menlu Perancis Hubert Vedrine; Menlu Turki, Ahmed Davitoglu; Menteri Penerangan Lebanon, Tarek Metry. Dari AS hadir Thomas Fredman, Patrick Seal dari Inggris, seorang kolumnis masalah-masalah Timur Tengah dan Makmun Fendy serta Ahmed ben Huly dari Aljazair yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen Liga Arab; Prof. Muhammad Yunus dari Bangladesh, dan tokoh-tokoh internasional lainnya.
Pesta Kebudayaan tersebut diawali dengan balapan onta (sibaq al-Hajin) dan kemudian dilanjutkan dengan pementasan opera ‘Kesatuan Negeri’ (Wihdah Wathan), yang ditulis oleh Penyair Saudi Sary, yang diaransemen oleh pemusik Saudi Magid Al-Muhandis, Nasir Saleh dan ditampilkan oleh penyanyi Saudi lainnya, antara lain Mohamed Abduh, Magid Muhandis, Abdul Magid Abdullah, Rashid Al-Magid, Abbas Ibrahim, Rashid Shamrani dan penyanyi cilik Khalid Al-Jilany (11 tahun), disertai para penyanyi dan artis cantik dari Lebanon Yara dan Fadawi Maliki.
Untuk pertama kali dalam sejarah Saudi, pesta kebudayaan tersebut juga dibuka untuk perempuan, walau masih belum dicampur antara laki-laki dan perempuan, dengan dibuka ruang khusus perempuan yang juga dikawal oleh pasukan perempuan Saudi. Arab Saudi sejak dipimpin oleh Raja Abdullah bin Abdul Aziz mulai lebih terbuka terhadap kenyataan dimana negara tersebut tidak dapat mengisolirkan diri dari pergaulan dunia internasional. Sebelumnya Raja Abdullah juga membuka kampus Universitas elit dan kelas dunia yang dipimpin oleh Professor dari Singapore yang juga sudah memulia dengan kampus ‘campuran’ antara laki-laki dan perempuan yaitu di KAUST (King Abdullah University of Science and Technology). Diantara kesuksesan Raja Abdullah membuka diri kepada dunia luar adalah gagasannya megadakan dialog antara agama yang dilaksanakan di Madrid dan Gedung PBB.
Kendati terdengar suara-suara miring ketika masih menjadi Putra Mahkota karena pendidikannya yang tidak tinggi, tapi semua itu tertepis dengan gerakan ‘opennes’ Raja Abdullah yang semakin terbuka dan pluralis.
 Balap UntaBalap Unta 
Berburu dengan menggunakan elang,  dan balap onta, dan balap kuda merupakan olah raga yang telah lama dilakukan oleh masyarakat arab ribuan tahun yang lalu.

Pada zaman dahulu, berburu dengan menggunakan Elang merupakan olah raga yang cukup populer di Saudi Arabia. Di masa sekarang, perlombaan ini diatur ketat oleh pemerintah. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian beberapa satwa yang merupakan mangsa dari burung elang tersebut.

Ribuan tahun yang lalu, balap unta dilakukan di padang pasir dengan jarak perlombaan yang cukup panjang dan diikuti oleh ribuan onta. Pada saat sekarang, perlombaan balap unta dilakukan di lapangan/ lintasan khusus. Biasanya balap kuda dan balap unta diadakan sepekan sekali di kota Riyadh.

Adapun untuk perlombaan kuda, jenis perlombaannya meliputi pacuan kuda ataupun berupa pemilihan kuda terbaik atau terunggul (fisik, kecepatan, kecantikan)
.